Selamat datang di Blog Tenaga Pendamping Profesional (TPP) P3MD Daerah Istimewa Yogyakarta

Rabu, 25 Maret 2026

Ekonomi Global Lagi Bergejolak, Indonesia dan Desa Ikut Merasakannya

 

Dunia hari ini ibarat sedang berada di jalan yang penuh tikungan tajam. Ekonomi global belum benar-benar pulih, tetapi sudah kembali diguncang oleh banyak persoalan sekaligus. Mulai dari perang di beberapa kawasan, kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, suku bunga tinggi di negara-negara besar, sampai ancaman perlambatan ekonomi dunia. Semua itu mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Namun kenyataannya, getaran ekonomi global bisa sampai ke warung kecil, sawah, pasar tradisional, bahkan ke dapur rumah tangga di pedesaan.

Ekonomi global saat ini sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara Eropa sedang menghadapi tantangan masing-masing. Ada tekanan inflasi, pelemahan industri, pengangguran, dan ketidakpastian perdagangan dunia. Ketika negara-negara besar melambat, dampaknya tidak hanya dirasakan di kota-kota besar dunia, tetapi juga menetes sampai ke negara berkembang seperti Indonesia.

Indonesia memang tidak berdiri sendiri. Perekonomian nasional sangat terkait dengan pasar dunia. Kita mengekspor batu bara, sawit, karet, tekstil, produk pertanian, dan banyak komoditas lainnya. Kita juga mengimpor bahan baku, mesin, pupuk, hingga energi. Artinya, ketika ekonomi global terguncang, Indonesia tidak bisa sepenuhnya kebal.

Ketika Dunia Lesu, Indonesia Ikut Tertahan

Salah satu dampak paling terasa dari situasi ekonomi global adalah naik-turunnya harga komoditas. Saat harga komoditas dunia naik, Indonesia bisa mendapat keuntungan, terutama dari ekspor. Tetapi ketika harga turun, pendapatan negara, dunia usaha, dan masyarakat yang bergantung pada komoditas juga ikut tertekan.

Misalnya, ketika harga pupuk dunia naik akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi, petani di Indonesia ikut merasakan beban. Ongkos produksi meningkat, sementara harga hasil panen tidak selalu ikut naik. Di sinilah persoalan mulai terasa nyata: ekonomi global yang tampak “jauh di sana” ternyata bisa langsung memengaruhi biaya tanam padi, jagung, cabai, atau sayuran di desa.

Selain itu, suku bunga tinggi di negara-negara maju juga bisa berdampak pada Indonesia. Ketika bank sentral negara besar menaikkan suku bunga, arus modal bisa keluar dari negara berkembang. Akibatnya, nilai tukar rupiah bisa tertekan. Jika rupiah melemah, harga barang impor menjadi lebih mahal. Ini bisa berdampak pada biaya produksi industri, harga kebutuhan pokok, dan ongkos usaha kecil.

Demikian pula perang Iran versus Amerika dan Israil berimbas pada naiknya harga minyak dunia sebagai dampak ikutan penutupan Selat Hormus yang sudah dirasakan oleh beberapa negara, meskipun Indonesia sampai saat ini masih mampu bertahan untuk tidak menaikkan harga

Bagi masyarakat umum, dampak seperti ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana tetapi berat: harga sembako naik, biaya transportasi meningkat, harga pakan ternak mahal, dan pengeluaran rumah tangga semakin membengkak.

Desa Tidak Lagi Terpisah dari Ekonomi Dunia

Dulu mungkin ada anggapan bahwa desa adalah wilayah yang “aman” dari gejolak ekonomi global. Tetapi sekarang, desa sudah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang saling terhubung. Petani bergantung pada pupuk dan benih yang harganya dipengaruhi pasar dunia. Pelaku UMKM desa bergantung pada daya beli masyarakat yang juga dipengaruhi situasi ekonomi nasional. Buruh migran dan keluarga perantau juga ikut membawa pengaruh ekonomi dari luar ke desa.

Karena itu, saat ekonomi global goyah, desa pun ikut merasakan getarannya.

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika harga BBM naik atau distribusi barang terganggu, ongkos angkut hasil panen dari desa ke pasar ikut naik. Pedagang kecil jadi harus menyesuaikan harga. Konsumen di desa pun membeli lebih hati-hati. Akibatnya, perputaran uang di tingkat lokal bisa melambat.

Jika masyarakat mulai mengurangi belanja karena pendapatan terbatas, warung-warung kecil ikut sepi. Jika warung sepi, pemasok juga terdampak. Jika petani menahan pembelian pupuk karena mahal, hasil panen bisa menurun. Dari situ terlihat bahwa ekonomi desa sesungguhnya sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi di luar wilayahnya.

Petani, Pedagang, dan UMKM Jadi Kelompok yang Paling Rentan

Kelompok yang paling cepat merasakan dampak ekonomi global biasanya adalah mereka yang berada di lapisan ekonomi bawah dan menengah bawah. Petani kecil, nelayan, pedagang pasar, buruh harian, serta pelaku usaha mikro di desa termasuk yang paling rentan.

Bagi petani, persoalan utamanya adalah naiknya biaya produksi. Harga pupuk, pestisida, benih, pakan, dan ongkos tenaga kerja bisa meningkat, sementara harga jual hasil panen sering tidak stabil. Akibatnya, keuntungan petani makin tipis, bahkan tidak sedikit yang hanya “balik modal” atau justru rugi.

Bagi pedagang kecil, tantangannya ada pada melemahnya daya beli masyarakat. Orang-orang cenderung lebih berhati-hati membelanjakan uang. Barang yang sebelumnya laku setiap hari bisa jadi lebih lama terjual. Pelaku UMKM desa seperti usaha makanan, kerajinan, jahit, atau olahan hasil pertanian juga menghadapi tantangan serupa.

Di sisi lain, anak-anak muda desa yang bekerja di kota juga bisa terdampak jika dunia usaha melambat. Bila lapangan kerja berkurang atau penghasilan menurun, kiriman uang ke kampung halaman pun ikut berkurang. Ini tentu memengaruhi ekonomi keluarga di desa.

Ancaman Sekaligus Peluang

Meski situasi ekonomi global membawa tekanan, bukan berarti Indonesia dan desa hanya bisa pasrah. Dalam setiap krisis, selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan jika dikelola dengan tepat. Indonesia punya kekuatan besar di sektor pertanian, pangan lokal, ekonomi rakyat, dan komunitas sosial desa yang relatif kuat. Ketika dunia sedang tidak stabil, justru ketahanan ekonomi lokal menjadi semakin penting. Desa bisa menjadi benteng ekonomi jika memiliki sistem produksi dan konsumsi yang lebih mandiri.

Misalnya, desa yang mampu mengembangkan pangan lokal akan lebih tahan terhadap gejolak harga pasar. Desa yang memiliki BUMDes aktif, kelompok tani produktif, koperasi sehat, dan UMKM yang inovatif akan lebih siap menghadapi tekanan ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global, ekonomi desa tidak cukup hanya bertumpu pada satu sumber penghasilan. Diversifikasi ekonomi menjadi kunci. Artinya, masyarakat desa perlu memiliki lebih dari satu penopang ekonomi. Selain bertani, bisa ada usaha peternakan, pengolahan hasil pertanian, wisata desa, perdagangan digital, atau usaha rumahan berbasis potensi lokal.

Menguatkan Ekonomi Pedesaan dari Akar Rumput


Menghadapi ekonomi global yang tidak menentu, langkah paling masuk akal adalah memperkuat ekonomi dari bawah. Desa tidak harus menunggu solusi besar dari pusat untuk mulai membangun ketahanan ekonominya sendiri.

Pertama, penguatan produksi lokal harus menjadi prioritas. Apa yang bisa ditanam, diolah, dan dijual dari desa harus dimaksimalkan. Desa yang kuat adalah desa yang tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen.

Kedua, BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) harus benar-benar difungsikan sebagai alat penggerak ekonomi, bukan sekadar papan nama. BUMDes bisa mengambil peran dalam distribusi hasil panen, perdagangan kebutuhan pokok, pengolahan produk desa, hingga layanan keuangan sederhana bagi masyarakat.

Ketiga, UMKM desa perlu naik kelas. Bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Produk lokal harus didorong agar punya kualitas, kemasan, pemasaran, dan akses pasar yang lebih baik. Di era digital, desa sebenarnya punya peluang besar untuk menjual produk ke pasar yang lebih luas, asalkan ada pendampingan dan kemauan beradaptasi.

Keempat, anak muda desa harus dilibatkan. Mereka bisa menjadi motor inovasi ekonomi lokal. Anak muda desa hari ini tidak hanya bisa bekerja di sawah, tetapi juga bisa mengelola pemasaran online, membuat konten promosi desa, mengembangkan wisata lokal, hingga mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Kelima, ketahanan sosial masyarakat desa juga penting. Dalam situasi sulit, solidaritas sosial sering menjadi penyelamat. Tradisi gotong royong, saling bantu, dan ekonomi berbasis komunitas adalah modal sosial yang sangat berharga dan tidak dimiliki semua negara.

Indonesia Perlu Menjaga Keseimbangan

Di tingkat nasional, Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan masyarakat kecil. Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi tidak cukup jika masyarakat bawah tetap tertekan.

Kebijakan pemerintah harus mampu menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau, mendukung petani dan pelaku UMKM, membuka lapangan kerja, serta memperkuat sektor riil. Bantuan sosial penting dalam jangka pendek, tetapi yang lebih penting dalam jangka panjang adalah membangun ekonomi produktif yang benar-benar memberi daya tahan kepada masyarakat.

Indonesia juga perlu memperkuat ketahanan pangan, energi, dan industri domestik agar tidak terlalu bergantung pada kondisi luar negeri. Semakin mandiri sebuah bangsa, semakin kuat pula kemampuannya menghadapi gejolak global.

Desa Harus Jadi Kekuatan, Bukan Korban

Situasi ekonomi global memang sedang tidak ramah. Dunia sedang bergerak dalam ketidakpastian. Namun di tengah semua itu, Indonesia masih punya kekuatan besar: rakyat yang tangguh, ekonomi rakyat yang hidup, dan desa-desa yang menyimpan potensi luar biasa.

Yang perlu dilakukan sekarang bukan hanya bertahan, tetapi berbenah. Desa tidak boleh hanya menjadi penonton atau korban dari gejolak ekonomi dunia. Desa harus menjadi bagian dari solusi. Ketika ekonomi lokal diperkuat, produksi desa ditingkatkan, UMKM digerakkan, dan masyarakat diberdayakan, maka desa bisa menjadi pondasi penting bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Pada akhirnya, kekuatan ekonomi nasional bukan hanya ditentukan oleh angka-angka besar di pusat, tetapi juga oleh seberapa kuat warung kecil tetap hidup, sawah tetap produktif, pasar desa tetap ramai, dan masyarakat desa tetap punya harapan. Karena sesungguhnya, jika desa kuat, Indonesia juga akan jauh lebih kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Dunia hari ini ibarat sedang berada di jalan yang penuh tikungan tajam. Ekonomi global belum benar-benar pulih, tetapi sudah kembali di...