Desa kembali ditempatkan sebagai ruang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Semangat tersebut mengemuka dalam koordinasi secara daring persiapan Lomba Desa Wisata Nusantara Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP). Koordinasi ini sekaligus sebagai penanda digelarnya Lomba Desa Wisata Nusantara
Koordinasi ini diikuti oleh unsur Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinas PMD) Provinsi dan Kabupaten seluruh Indonesia, serta Tenaga Pendamping Profesional (TPP). Forum menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman, membangun koordinasi lintas daerah, sekaligus mempersiapkan pelaksanaan Lomba Desa Wisata Nusantara 2026.
Lomba ini tidak sekadar dimaknai sebagai kompetisi antardesa. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong desa mengenali, mengembangkan, dan mengelola potensi wisata yang dimiliki dengan melibatkan masyarakat sebagai kekuatan utama.
Desa Menjadi Lokus Strategis
Salah satu landasan penyelenggaraan Lomba Desa Wisata Nusantara 2026 adalah menempatkan desa sebagai lokus strategis pembangunan.
Pembangunan yang dimulai dari desa dan bergerak dari bawah menjadi bagian dari upaya mendorong pemerataan ekonomi sekaligus pengentasan kemiskinan. Potensi sumber daya alam, budaya, kreativitas masyarakat, hingga kearifan lokal yang tersebar di berbagai desa dapat menjadi modal bagi pengembangan ekonomi lokal.
Dalam perspektif menuju Indonesia Emas 2045, desa tidak hanya dipandang sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai salah satu kekuatan penggerak pembangunan ekonomi nasional.
Karena itu, pengembangan desa wisata menjadi salah satu ruang untuk menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi yang lebih luas.
Masyarakat Menjadi Subjek Utama
Konsep pariwisata berbasis masyarakat menjadi fondasi penting dalam pengembangan desa wisata. Desa wisata tidak semata-mata dibangun dengan menghadirkan destinasi atau objek wisata baru. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menjadi subjek utama dalam merencanakan, mengelola, mengembangkan, dan memperoleh manfaat dari kegiatan pariwisata.
Masyarakat desa memiliki pengetahuan mengenai potensi wilayahnya, mulai dari tradisi, kesenian, kuliner, kerajinan, pertanian, lingkungan, hingga kehidupan sosial yang menjadi bagian dari karakter sebuah desa.
Dengan pendekatan tersebut, desa wisata diharapkan berkembang secara partisipatif dan tetap mempertahankan identitas lokal. Pariwisata tidak berdiri sendiri, tetapi dapat terhubung dengan UMKM, BUM Desa, kelompok masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, serta berbagai usaha lokal lainnya.
Lomba sebagai Apresiasi dan Pemantik Inspirasi
Latar belakang berikutnya adalah apresiasi dan motivasi. Lomba Desa Wisata Nusantara menjadi ruang untuk memberikan penghargaan terhadap desa-desa yang telah mengembangkan potensi wisata sekaligus menjadi media berbagi inspirasi dan pengalaman antardesa.
Melalui kompetisi tersebut, praktik-praktik pengelolaan desa wisata yang berkembang di berbagai daerah dapat menjadi pembelajaran bagi desa lainnya. Dengan demikian, semangat lomba tidak berhenti pada pencapaian sebuah penghargaan, tetapi dapat mendorong semakin banyak desa untuk mengembangkan potensi wisata secara kreatif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, geliat pariwisata desa diharapkan memberikan dampak yang lebih luas terhadap peningkatan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Koordinasi yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa dan Tenaga Pendamping Profesional menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan kerja bersama.
Dinas PMD memiliki peran dalam penguatan kebijakan dan fasilitasi di daerah, pemerintah desa menjadi penggerak pembangunan di tingkat lokal, sementara TPP dapat mendukung proses pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Dengan kolaborasi tersebut, LDWN 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan desa-desa yang mampu tampil dalam ajang kompetisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem pariwisata berbasis masyarakat yang mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Murtodo,SH.,M.Pd. (Koordinator TAPM DIY) mengatakan " Dari desa, potensi wisata digali. Dari masyarakat, pariwisata dikelola. Dan dari desa wisata, diharapkan lahir aktivitas ekonomi yang memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat."




0 Komentar