TAPM DIY dan UNY Perkuat Sinergi Pendampingan BUMDes, Susun Profil 30 BUMDes Sleman Berbasis Data Faktual



Yogyakarta – Ruang pertemuan di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tampak dipenuhi semangat kolaborasi pada Jumat, 3 Juli 2026. Sejumlah dosen dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta duduk bersama membahas satu tujuan yang sama: menghadirkan profil Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang tidak sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi mampu merekam perjalanan, potensi, capaian, dan arah pengembangan BUMDes secara komprehensif.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal kerja sama antara TAPM Provinsi DIY dan Universitas Negeri Yogyakarta dalam program pendampingan penyusunan profil 30 BUMDes di Kabupaten Sleman. Melalui sinergi antara tenaga pendamping profesional dan kalangan akademisi, kedua belah pihak berkomitmen menghasilkan dokumen profil yang sistematis, informatif, serta didukung data yang faktual dan aktual sebagai basis penguatan kelembagaan ekonomi kalurahan.

Dari pihak TAPM Provinsi DIY hadir secara langsung Koordinator Provinsi TAPM P3MD DIY, Murtodo, S.H., M.Pd., didampingi Gatot Ferianto, S.P., M.Pd. dan Abdah Rahmawati, S.Kom., M.Pd. Sementara dari UNY hadir Dr. Vita selaku Ketua Program bersama Dr. Yudan Istiawan, Dr. Hiryanto, Dr. David, dan Dr. Tantri sebagai tim akademisi yang akan terlibat dalam proses pendampingan.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan produktif. Berbagai gagasan mengemuka, mulai dari penyusunan kerangka profil, metode pengumpulan data, teknik penulisan, hingga strategi agar dokumen yang dihasilkan mampu menjadi referensi bagi pemerintah kalurahan, pengelola BUMDes, maupun pemangku kebijakan dalam menyusun langkah pengembangan usaha desa.

Koordinator Provinsi TAPM DIY, Murtodo,S.H., M.Pd., menegaskan bahwa pendampingan ini merupakan upaya menghadirkan wajah BUMDes secara utuh melalui pendekatan berbasis data.

"BUMDes hari ini membutuhkan dokumentasi yang tidak hanya menceritakan siapa mereka, tetapi juga menggambarkan bagaimana mereka tumbuh, menghadapi tantangan, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, profil yang akan kita susun harus berbasis fakta, menggunakan data yang valid, serta mampu menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan maupun pengembangan BUMDes di masa mendatang," ujarnya.

Menurut Murtodo, keberadaan perguruan tinggi menjadi mitra strategis dalam memastikan kualitas penyusunan profil. Pendekatan akademik yang dipadukan dengan pengalaman lapangan para pendamping diyakini akan menghasilkan dokumen yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai ilmiah dan praktis.

Sementara itu, Ketua Program dari UNY, Dr. Vita, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kalurahan serta ini merupakan tindak lanjut Kerjasama UNY dengan  Kementerian Keuangan RI dalam pendampingan BUMDesa.

Sedangkan Dr. Yudan Istiawan memberikan gambaran maksud dan tujuan pendampingan kepada Bumdes dan target capaiannya selama kurun waktu 3 bulan dapat memfasilitasi profil Bumdes.

"UNY memiliki komitmen untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini kami ingin memastikan bahwa setiap profil BUMDes disusun dengan metodologi yang baik, berbasis data lapangan, dan mampu menggambarkan potensi serta peluang pengembangannya secara objektif," ungkapnya.

Ia menambahkan, penyusunan profil tidak hanya berhenti pada aspek dokumentasi, tetapi juga menjadi instrumen analisis yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan strategi penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha BUMDes.

Dalam forum tersebut, tim menyepakati bahwa profil setiap BUMDes akan disusun dengan sistematika yang seragam agar mudah dipahami sekaligus memudahkan proses analisis dan perbandingan. Dokumen akan memuat identitas kelembagaan, sejarah pembentukan, tata kelola organisasi, potensi lokal, unit usaha yang dijalankan, capaian kinerja, kontribusi terhadap perekonomian kalurahan, inovasi yang telah dilakukan, praktik-praktik baik (best practices), tantangan yang dihadapi, hingga rekomendasi pengembangan ke depan.

Keakuratan data menjadi perhatian utama. Seluruh informasi akan diperoleh melalui observasi lapangan, telaah dokumen, wawancara dengan pengelola BUMDes, pemerintah kalurahan, serta pemangku kepentingan lainnya sehingga menghasilkan profil yang benar-benar merepresentasikan kondisi riil masing-masing BUMDes.

Sebanyak 30 BUMDes di Kabupaten Sleman akan menjadi lokus pendampingan dalam program ini. Pemilihan Sleman didasarkan pada besarnya potensi pengembangan ekonomi desa sekaligus keberagaman karakteristik BUMDes yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan BUMDes di wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kolaborasi ini juga menjadi contoh bagaimana sinergi antara tenaga pendamping profesional dan perguruan tinggi mampu memperkuat proses pemberdayaan masyarakat. TAPM menghadirkan pengalaman panjang dalam fasilitasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, sementara UNY memberikan penguatan pada aspek metodologi, analisis, dan penyusunan dokumen yang berkualitas.

Pertemuan perdana tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk segera menyusun rencana kerja, pembagian tugas, serta jadwal pendampingan lapangan. Semangat kolaborasi yang terbangun menjadi modal penting dalam menghasilkan profil BUMDes yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi penguatan kelembagaan dan pengembangan ekonomi kalurahan.

Melalui kerja sama ini, TAPM Provinsi DIY dan UNY berharap setiap BUMDes tidak hanya memiliki dokumen profil yang representatif, tetapi juga memperoleh peta jalan pengembangan yang berbasis data. Dengan demikian, BUMDes diharapkan semakin mampu menjalankan perannya sebagai lokomotif ekonomi kalurahan, mendorong tumbuhnya kewirausahaan desa, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

 

Posting Komentar

0 Komentar