Saat Harga Telur Terpuruk, BUMDes Krembangan Justru Panen Keuntungan dari Telur Omega-3



Panjatan – Ketika sebagian peternak ayam petelur harus menghadapi kenyataan pahit akibat anjloknya harga telur di pasaran, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Binangun Artha Mandiri Kalurahan Krembangan justru menunjukkan cerita berbeda. Di tengah tekanan pasar, usaha peternakan ayam petelur Omega-3 yang mereka kelola tetap bertahan, bahkan mampu menghasilkan keuntungan yang menjanjikan.

Kisah dari Kalurahan Krembangan, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo ini menjadi bukti bahwa keberhasilan usaha desa tidak semata ditentukan oleh besarnya modal atau kondisi pasar, melainkan oleh keberanian berinovasi, kemampuan membaca kebutuhan konsumen, dan pengelolaan usaha yang profesional.

Didukung penyertaan modal Dana Desa sebesar Rp230,1 juta, BUMDes Binangun Artha Mandiri mengembangkan peternakan sekitar 1.000 ekor ayam petelur Omega-3 sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa. Pilihan usaha tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga menghadirkan sumber pangan bergizi bagi masyarakat.

Setiap hari, sekitar 800 hingga 810 butir telur atau setara kurang lebih 50 kilogram berhasil diproduksi. Dengan harga jual rata-rata Rp31.000 per kilogram, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp1,55 juta per hari atau lebih dari Rp46 juta setiap bulan.

Angka tersebut menjadi capaian yang patut diapresiasi, terlebih ketika harga telur ayam ras biasa sedang mengalami penurunan. Banyak pelaku usaha harus menerima margin keuntungan yang semakin tipis, bahkan merugi. Namun BUMDes Krembangan mampu menjaga stabilitas usahanya melalui strategi yang sederhana tetapi efektif: menghadirkan nilai tambah.

Alih-alih bersaing semata pada harga, BUMDes memilih menawarkan kualitas. Telur yang diproduksi merupakan telur Omega-3 dengan kandungan asam lemak yang lebih tinggi dibandingkan telur biasa. Kandungan nutrisi tersebut dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu perkembangan fungsi otak, menjaga kesehatan jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembang anak, hingga memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pangan sehat, produk ini menemukan pasarnya sendiri.

Direktur BUMDes Binangun Artha Mandiri, Budi Wulandari, menyebut bahwa nilai tambah produk menjadi kunci keberhasilan usaha yang dijalankan.

"Kami tidak hanya menjual telur, tetapi juga manfaat kesehatan. Ketika masyarakat mengetahui manfaat telur Omega-3, mereka tetap membeli meskipun harga telur biasa sedang turun. Alhamdulillah, sampai saat ini permintaan masih lebih besar dibanding kemampuan produksi kami," ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan cara pandang dalam mengelola usaha desa. Produk tidak lagi diposisikan sekadar komoditas, tetapi sebagai solusi atas kebutuhan masyarakat. Konsumen membeli bukan hanya karena harganya, melainkan karena manfaat yang diperoleh.

Strategi pemasaran pun dilakukan secara cermat. BUMDes tidak bergantung pada tengkulak yang sering kali menentukan harga pasar. Telur Omega-3 dipasarkan langsung kepada konsumen melalui pelanggan tetap, komunitas masyarakat, reseller, hingga penjualan ke rumah tangga.

Pendekatan ini membuat rantai distribusi menjadi lebih pendek, harga jual lebih terjaga, dan keuntungan usaha dapat dinikmati secara optimal oleh BUMDes. Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar 50 konsumen aktif setiap hari yang secara rutin membeli telur Omega-3 produksi Krembangan.

Lebih dari sekadar menghasilkan keuntungan, usaha ini juga menghadirkan manfaat sosial yang luas. Ketersediaan sumber protein hewani berkualitas dengan harga yang terjangkau turut mendukung upaya peningkatan gizi keluarga di tingkat desa.

Konsumsi telur Omega-3 berpotensi mendukung kesehatan ibu dan anak, memperbaiki kualitas asupan gizi masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam percepatan penurunan angka stunting. Dengan demikian, program ketahanan pangan tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi juga menyentuh dimensi kesehatan dan pembangunan sumber daya manusia.

Pendamping Lokal Desa, Hendri Sulistya, menilai keberhasilan tersebut merupakan contoh nyata bagaimana Dana Desa dapat dikelola menjadi usaha produktif yang berkelanjutan.

"Program ketahanan pangan akan berhasil apabila tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek bisnis dan pemasaran. BUMDes Krembangan mampu menunjukkan bahwa Dana Desa dapat dikelola menjadi usaha produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," jelasnya.

Apa yang dilakukan BUMDes Binangun Artha Mandiri menjadi pelajaran berharga bagi desa-desa lain. Ketahanan pangan tidak cukup dimaknai sebagai upaya menghasilkan bahan pangan sebanyak-banyaknya. Program akan memiliki daya hidup ketika dibangun di atas fondasi bisnis yang sehat, inovasi produk yang sesuai kebutuhan pasar, serta tata kelola yang profesional.

Krembangan telah membuktikan bahwa Dana Desa dapat melahirkan lebih dari sekadar kegiatan rutin. Dari kandang berisi seribu ekor ayam petelur, lahir harapan tentang desa yang mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri.

Di tengah fluktuasi harga pasar yang sering kali tidak menentu, inovasi telur Omega-3 menjadi jawaban bahwa desa dapat bertahan bahkan tumbuh dengan memanfaatkan peluang yang ada. Ketika nilai tambah bertemu dengan semangat pemberdayaan, usaha desa bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan kesehatan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dari Krembangan, kita belajar bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia berawal dari sebutir telur yang dikelola dengan gagasan besar: membangun desa yang sehat, mandiri, dan sejahtera.

Artikel amplifikasi dari tulisan Yulianto, TAPM Kabupaten Kulon Progo, sebagai diseminasi praktik baik pengelolaan Dana Desa untuk ketahanan pangan 

 

Posting Komentar

0 Komentar